Entri Populer

Minggu, 27 Mei 2012

AWB.EB.507 dan Saya....



Kali ini tugas yang harus saya emban adalah melakukan modifikasi platform milik salah satu PMA asing di daerah Kalimantan Timur. Yeaahh... bergabung dalam situasi yang serba baru.. tim baru, kantor baru, camp baru, klien pun baru..dan yang lebih seru,, field baru.. yang biasanya cuma boleh di onshore,, kali ini saya boleh mencoba offshore..sesuatu yang dulu saya pikir cuma mimpi, dan sekarang jadi kenyataan... senang, bingung, cemas..bercampur jadi satu..
Bulan demi bulan berlalu.. tahap persiapan di darat pun sudah selesai... Kantor yang awalnya ramai..dan kinipun mulai sepi..

Tanggal 3 Februari 2012.. AWB.EB.507..akomodasi kami selama di laut di berangkatkan.. dan fase konstruksi pun dimulai..
Membuat konstruksi di existing platform mempunyai tantangan tersendiri,, mungkin lebih menarik dibanding platform baru.. segala daya imajinasi dan kreatifitas diperlukan agar fasilitas baru dan lama bisa diintegrasi.. Platform pertama kami sebut golf.. dan platform kedua kami sebut charlie..

Selama fase konstruksi,, saya dan crew yang lain tinggal dan berkantor di AWB.EB.507.. yep,, si elang biru yang sarat penduduk ini sudah menjadi bagian dari hidup kami saat ini.. Bangunan kapal tongkang yang difabrikasi sedemikian hingga membentuk sebuah barge dengan bangunan 4 lantai dan halaman yang penuh dengan kontainer material dan sebuah crane besar berkapasitas 500 ton. Mampu memuat 250 POB yang terdiri dari client, crew contsruction, crew barge, mechanic Genset, Rigger, dll..Mempunyai puluhan kamar dari yang kapasitas 1 orang hingga ada yang mampu memuat 10 orang per kamar. Beruntung karena saya bergender khusus (wanita), saya mendapat kamar khusus yang disiapkan dari pertama kali project ini dimulai. Kamar saya terletak di ruangan paling pojok dari koridor sebelah kanan barge di lantai dua. Di dalam kamar ini, saya tinggal dengan seorang manager HSE. Tinggal kami berdua yang berjenis kelamin wanita, selebihnya bisa dipastikan laki-laki semua. Mushollah dan ruang entertain terletak di lantai paling atas.

Setiap hari saya berkantor di sebuah ruangan berukuran 28sqmm yang terletak di pintu tengah lantai dua. Ruangan berbentuk segi empat dengan meja dan kursi yang disusun rapat ini mampu menampung 9 orang dengan masing-masing komputer di meja.

Meski orang cenderung tidak suka berlama-lama di laut, tapi saya justru sebaliknya.. saya merasa lebih suka berada di laut di banding harus ngantor di darat.. Tidak adanya pembatasan jam kerja dan samanya pemikiran dari setiap orang yang berada di elang biru ini membuat saya merasa lebih nyaman. karena tidak perlu takut untuk berada di kantor hingga tengah malam sekalipun seperti yang saya lakukan saat ini, banyak temen senasip euy. Di sini saya merasa suasana lebih santai walaupun tetep serius, banyak tawa, dan saya suka kebersamaan yang terjalin. hehe..

Bekerja dengan banyak orang selalu diwarnai dengan banyak peristiwa yang akan selalu membekas sampai kapanpun. Gontok2an dengan teman sekerja, itu wajar..di tambah dengan pressure pekerjaan dan lingkungan alam. Satu hal yang saya suka dengan bekerja secara tim akan menimbulkan rasa kebersamaan yang tinggi.. Semboyan "pergaulan" yang acap kali di deklar kan oleh orang-orang lapangan memang bukan isapan jempol. Kebiasaan sederhana mampu membuat lawan jadi kawan. yang tadinya tidak kenal, jadi akrab.. rutinitas malam dengan merokok dan ngopi bareng menjadi panorama tersendiri dari muster point 3..

2 hari lalu cuaca memburuk, Elang biru kami berhasil diombang ambingkan ombak liar dan angin kencang.. beruntung ombak tidak terlalu besar, hanya saja air laut berhasil menerobos masuk ke lantai dasar elang biru...kapal-kapal penumpang susah bersandar, lifting material pun terpaksa di tunda... Syukurlah,, de-anchoring selesai dilakukan kemarin, dan kini gang-way sudah tertambat ke platform charlie..

Dan semoga persiapan shutdown untuk platform kedua ini berjalan lancar...

28-5-2012 1.53am
Contractor office room
AWB.EB.507

Sabtu, 06 Maret 2010

Sarapanku pagi ini

Hari Sabtu adalah hari yang menyenangkan. Karena di hari sabtu aku bisa bangun siang, dan yang pasti gak perlu bertemu dengan datasheet ato process data yang membuat kepala ini makin puyeng. hehe..
Bangun jam 10 siang, dan perut tak lagi bisa bersabar. "LAPAAARRRR !!", protesnya.. Ok..ok.. kita makan.. Hmm.. apa yang bisa kita makan pagi ini.. :-?
Melihat sepiring nasi di meja, tak lantas membuatku tertarik untuk menyantapnya. Akhirnya setelah mengobok-obok isi kulkas, experimen pun dimulai. Kali ini topiknya Mie Kuah Warna-warni. hehe.. kenapa warna-warni, karena di dalamnya terdapat beberapa unsur warna sayuran yang mencolok dan berbeda. Berbekal bumbu yang gak lengkap, ya.. lumayan lah rasanya. hahaha..
Berikut list bahan, bumbu, dan cara membuat nya :

Bahan*:
- 1 Bks Mie Instan Rasa Ayam (Rebus Mie tanpa bumbu, buang airnya, sisihkan di mangkuk)
- 1 Ons Daging Sapi, Cincang/iris kecil-kecil
- 1 Biji Sosis Sapi (mau lebih, boleh..)
- 5 Biji Bakso Sapi (potong-potong)
- Bunga Kol Secukupnya (ato Brokoli)
- 2 Lembar Kol Ungu ( potong-potong)
- 1 Buah Wortel (potong bulet)
- 1 Buah Tomat (potong kotak-kotak)
- 600ml air

*) Berhubung di kulkas gak ada seledri, daun bawang dan sawi, maka saya gak pake mereka. Tapi sebaiknya klo ada, ditambahkan aj biar lebih seru. :D


Bumbu :
- 3 Siung Bawang Merah (iris tipis)
- 2 Siung Bawang putih (geprak, potong kecil-kecil)
- 1 Bks Bumbu Mie Instan **)
- 5 Biji Cabe rawit ijo (sobek perutnya)
- 1 Sendok Makan Kecap Asin **)
- 1 ruas Jahe (memarkan)
- 1 ruas Lengkuas (memarkan)
- 1 sendok teh gula

**) berhubung blm bli garam, jadi terpaksa pake bumbu mie instan sama kecap asin. saya lebih suka pake gula garam aj, tanpa vetsin


Cara membuatnya :
1. Didihkan 600ml air, masukkan daging cincang. Rebus sebentar. Masukkan irisan bawang putih dan bawang merah ke dalam rebusan daging. tunggu beberapa saat. Sampai tercium harum.
2. Masukkan wortel, kol ungu, bunga kol, bakso, cabe rawit, lengkuas dan jahe. Masukkan juga bumbu mie instan. tambahkan kecap asin. masak hingga sayuran agak layu.
3. Masukkan tomat, sosis yg di iris tipis. tunggu hingga 1 menit, matikan api.
4. Sajikan Kuah diatas mie yang sudah di siapkan di mangkuk. hmm.. akan lebih seru lagi klo ada taburan seledri dan bawang goreng.

dan... voilla... Mie Kuah Warna-Warni


di temani segelas susu sapi segar.. lumayan bisa meredam klo kemakan cabe rawet utuh =))

Rabu, 16 Desember 2009

aku rindu tawa riang itu....

entah knapa, dunia serasa sepi,,
senyum-senyum hangat yang dulu terasa begitu dekat kini tak lagi kudapati..
entah knapa wajah-wajah yang penuh keceriaan itu susah sekali kutemui..
kemanakah kalian pergi..??
apakah ini hanya rasaku..
ataukah begitu tebal barrier yang ada dihadapanku
hingga ku tak lagi sanggup melihat smuanya itu

Tuhan... aku tau ini hanya sementara..
aku tau mereka ada..
hanya saja biarkan waktu yang bicara..

tapi kenapa aku tidak sabar untuk menantinya..
seoalah begitu luas ruang kosong tersisa..
aku rindu tawa riang itu.... tawa yang tulus.. penuh dengan keceriaan.. seolah hidup ini begitu indah untuk dilewatkan..

mereka yang selalu bahagia..
yang selalu memenuhi hidupku dengan keceriaan..
yang selalu memberiku alasan untuk selalu tersenyum..
yang selalu membangkitkan semangatku yang kini mulai pudar..

guys...bro..sis..
i miss u....
i love u....
i need u...
sirami ragaku dengan tawamu.. candamu... tulusmu.. hangatmu...

guys...
kembalikan jiwa liar ku...
genggam erat tanganku...
dan mari taklukkan dunia bersamaku...

dedicated for all sikluser, tfer, bromocolo2 smanika, arebo, the jack yg suka jln2 brg gw :D, n all my brothers n sisters.., n i hope i'll find it in synergyzer...:)

Senin, 22 Juni 2009

Pulau Tidung




Wahhhh............akhirnya kesampean juga pergi ke pulau seribu. Salah satunya adalah Pulau Tidung. Pulau yang terletak paling barat dari gugusan kepulauan seribu ini, berjarak 3jam dari Muara Angke. Untuk menuju pulau Tidung tidaklah susah, ada kapal umum yang berangkat dari muara Angke pada jam 7 pagi setiap harinya. Cukup membayar 33ribu rupiah perorang dan kapal pun siap membawa anda ke Pulau Tidung. Kapal yang berlayar ke pulau tidung memang hanya ada sekali jalan setiap harinya, selain karena jaraknya yang lumayan jauh, penumpang yang menuju ke pulau ini juga tak terlalu banyak. Kapal berkapasitas max 80 orang itu terdiri dari 3 bagian, ruang nahkoda, deck bawah dan deck atas untuk penumpang. Saya si lebih suka naik di deck atas, karena bisa menikmati hempasan lautan luas dan melihat-lihat pulau-pulau disepanjang perjalanan serta menyaksikan hiruk pikuknya aktivitas di sekitar pulau seribu. Namun jika gelombang sedang tinggi, pemilik kapal meminta penumpang untuk masuk ke dalam.



Okay,, sekilas tentang Pulau Tidung. Pulau tidung memiliki pasir yang putih dan air yang jernih kebiruan, tampak lebih cantik di banding pulau-pulau yang lebih dulu terkenal seperti Pulau Pramuka ataupun Pulau Onrust. Berbagai macam Biota laut masih melimpah di dalamnya. Dari ikan-ikan kecil yang dulunya hanya bisa saya pandangi dari balik layar kaca, kini saya bisa memegangnya dengan tangan saya. Karangnya pun bagus dan seru. Sesekali tampak ubur-ubur kecil yang menghampiri. Namun sayang, di beberapa bagian terumbu karangnya rusak berat. Tapi itu tak mengurangi ketertarikan saya akan pulau ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan disini, mulai dari berkeliling pulau, snorkeling, mancing, sampe guling-guling di pasir juga ok.


Pulau Tidung terdiri dari Tidung besar dan Tidung kecil yang dihubungkan oleh jembatan kayu yang ditengahnya sudah mulai reyot, tapi masih sanggup menopang motor yang melaju dengan kencangnya. sampai-sampai saya harus pegangan kuat di balok kayu kelapa karena takut jatuh terhempas atau tertubruk motor-motor itu. (Itu dulu waktu saya pertama kali ke sana di bulan mei. Tapi kondisinya sedikit berubah pada waktu terakhir saya ke sana bulan oktober kmrn. Jembatan kayu itu di renovasi di bagian barat, agak dipertinggi. tujuannya agar kapal-kapal kecil bisa nyebrang ke sisi selatan dan sebaliknya, tanpa memutari pulau kecil. tentunya hal ini lebih efektif buat para nelayan kecil. tapi buat anda penyuka sepeda, sepertinya harus bersabar dulu karena tidak satupun kendaraan bisa lewat jembatan ini. satu-satunya alternatif adalah dengan menyewa perahu kecil untuk menyebrang).



Sepanjang jembatan kayu terdapat 2 gazebo, terbuat dari balok kayu yang kokoh. Gazebo ini sering dipakai oleh para wisatawan ataupun penduduk sekitar untuk beristirahat dari terik mentari sambil menikmati segarnya angin laut. Dan tak jarang pula, saya gunakan bwt bermalam. hihihi.. Tapi jangan pernah sekali-kali untuk mencoba bermalam di gazebo pada musim hujan seperti sekarang ini, sering terjadi badai dan gelombang tinggi. Seperti yang saya alami waktu terakhir kesana. :D.. LEbih baik anda menginap di penginapan di sekitar pulau tidung besar, belum banyak dan belum terlalu bagus layaknya di pulau pramuka. Pulau tidung memang belum di bangun untuk pariwisata. Namun penginapan di Pulau Tidung Besar sudah cukup nyaman, dengan air bersih yang melimpah. Umumnya mereka juga menyewakan alat snorkeling, perahu kecil, dan sepeda ontel kepada para wisatawan yang ingin berkeliling-keliling menikmati indah nya pulau tidung.



Soal makanan khas, saya belum tau banyak. Tapi satu yang khas yang saya tau dari pulau ini adalah keripik sukunnya yang renyah dan gurih.

Pulau ini relatif lebih bersih di banding pulau-pulau lain di kep. Seribu seperti Pramuka atau Bidadari. Berpenghuni sekitar 2000 jiwa, Cukup padat, namun tata desanya sudah cukup rapi. Terdapat kantor kelurahan dan puskesmas yang bangunannya tak kalah ok dengan yang ada di jakarta dan memiliki beberapa sekolah hingga taraf SMK. Jauh dari apa yang saya perkirakan sebelumnya.

Melihat birunya air laut, dan sepinya Pulau Tidung kecil membuat pikiran lebih damai dan bebas dari segala keruwetan rutinitas di kantor.

Klo anda ingin bermain ke Kep. Seribu, tak ada salahnya jika anda mampir untuk mengunjungi pulau ini. :D

Sabtu, 09 Mei 2009

Dreamland Beach

Satu lagi koleksi wisata Bali yang masih enak bwt jalan-jalan. Namanya Pantai Dreamland. Pantai yang memiliki pasir putih dengan deburan ombak yang lumayan gede dan garis pantai yang relatif landai ini berlokasi di Bali selatan. Pantai ini dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi dan batu karang yang besar-besar. Pantai Dreamland berada di dalam kompleks Bali Pecatu Graha (Kuta Golf Link Resort) yaitu sekitar 30 menit dari Pantai Kuta (http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Dreamland).

Sebelum sampai ke Pantai ini, kita harus melewati lahan yang cukup luas dan dulu waktu saya kesana sekitar Juni 2005 masih belum dibangun. Seperti ladang yang terbengkalai dan tak terurus, tapi setelah kita berjalan sedikit ke arah pantai..hmm...pemandangan yang menakjubkan akan anda dapatkan di sini. Pantainya yang masih alami, bersih dan belum terlalu banyak orang membuat saya merasa sangat nyaman berada di Pantai ini. Tapi kabarnya, sekarang sudah dibangun cantik layaknya tempat wisata umum. Hmm..mungkin saya harus kembali ke sana untuk tau kondisi yg skrg. :D












Kebanyakan pengunjungnya adalah wisatan asing, sangat jarang pengunjung lokal datang ksini (sejauh yang saya temui waktu itu). Ombaknya yang lumayan gede(tapi masih aman), enak banget bwt surfing ato berenang di pinggir.












Fasilitas umum yang disediakan sudah lumayan lengkap meski gak ada hotel berbintang ato supermarket. Bungalow-bungalow yang unik banyak di bangun di karang2 pantai. Harga yang di tawarkan pun relatif terjangkau. Pedagang makanan dan minuman tersebar dimana-mana. Bagi anda yang suka berjemur, di sana sudah disediakan kursi panjang bwt selonjoran seharian di bawah terik matahari. Lokasi surfing tidak jauh dari Pantai ini, hanya perlu berjalan 10menit ke arah barat.



Jadi, sempatkanlah mampir ke Pantai ini jika anda berada di Bali.

Kamis, 07 Mei 2009

Pantai Delegan

Delegan, begitulah orang-orang menyebutnya. Pantai yang terletak di desa Panceng, Gresik, ini berpasir putih, airnya pun tampak biru dan jernih. Pantai yang cukup cantik jika dibanding pantai-pantai utara jawa pada umumnya yang pasirnya berwarna hitam dan airnya coklat karena mengandung lumpur. Iseng-iseng jalan ke pantai ini karena pertanyaan dari kakak ipar tentang keberadaannya. Karena penasaran akhirnya saya browsing di Internet dan bertanya pada temen2 yang berdomisili tak jauh dari posisi pantai ini. Akhirnya saya dapatkan informasinya, dimana letaknya dan bias diakses apa aja.


Saya pilih hari minggu di suatu Februari 2007 sebagai waktu yang pas untuk jalan kesana, sekaligus menyesuaikan jadwal temen2 yang rumahnya dekat sana. Bersama Ratih, saya berangkat dari Surabaya dengan mengendarai motor. Dan di Lamongan, sudah menunggu Habiby dan Erik yag sebelumnya sudah sepakat untuk ikut ke Pantai Delegan. Dengan petunjuk dari mereka berdua dan beberapa informasi dari internet, akhirnya saya sampai di Pantai Delegan dengan selamat. 2jam waktu yang saya perlukan untuk sampai di Pantai ini. Untuk menuju pantai ini tidaklah sulit, lokasinya yang berada pada jalur pantura tentunya kendaraan umum banyak yang melintasi lokasi ini. Berada setelah Wisata Bahari Lamongan (jika kita dari arah Lamongan menuju Sby), sampai perempatan depan kantor polisi Panceng belok ke kiri. Memang Lokasinya agak masuk ke dalam, tapi tidak terlalu jauh untuk menjangkaunya hanya 2km saja. Saya blum tau apa ada angkutan umum ato ojek untuk masuk ke dalamnya.


Di sana suasana sudah sangat ramai. Menurut Habiby dan Erik, seminggu sebelumnya memang pantai ini baru saja dibuka secara resmi oleh Bupati Gresik. Tapi sayang, Pantai Delegan belum benar2 dibangun. Lihat saja, loket penjualan tiketnya hanya berupa pos kecil dari anyaman bambu yang tak beratap dan tidak ada pintu masuk yang jelas. Jadi tanpa membeli tiketpun kita masih bisa keluar masuk dengan bebas. Dan yang benar2 bikin saya bengong, harga tiketnya murah banget. Hanya 500 rupiah perkepala. Masuk ke area pantai, hmm.. lumayan bersih meskipun belum banyak fasilitas2 umum yang disediakan. Pantainya…hmm.. seperti yang saya bilang sebelumnya, cantik, ombaknya tenang, dangkal sampai radius +-10m, jernih, pokoknya enak banget bwt mainan air dan aman bwt anak2. Di pinggir pantai, kita bisa mendapati orang2 yang menyewakan ban, kano, penjual makanan & minuman, meskipun blum ada team penyelamat pantai.


So.. klo anda melintasi jalur pantura, gak ada salahnya untuk mampir dan beristirahat sejenak sambil menikmati sepiring nasi jagung+ikan bawal goreng dan sebutir kelapa muda sambil dihembus segarnya angin pantai.

Selasa, 05 Mei 2009

Meru Betiri,, Pengalaman seru yang tak terlupakan

Bertemu orang-orang baru dalam sebuah perkumpulan adalah satu hal baru yang menantang sekaligus menyenangkan. Senang karena seperti menemukan keluarga baru, yang artinya akan membuat wacana baru dalam hidup kita. Menantang, dengan berbagai macam karakter yang ada kita berupaya menyeimbangkan semuanya dalam satu tujuan bersama. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali bergabung dalam sebuah perkumpulan anak-anak penggila jalan-jalan dan olahraga outdoor yang selalu berupaya menjaga keseimbangan lingkungannya ini. Sikluser, itulah panggilannya.

Di suatu April, muncullah ide untuk jalan bareng. Dari koordinasi yang cukup rumit, akhirnya diputuskan untuk jalan ke Taman Nasional Meru Betiri. Trans Meru Betiri, judul acaranya. Yep.. dari namanya sudah pasti kami akan melakukan perjalanan menyusuri hutan dan pantai dari meru barat sampai meru timur. Dilaksanakan pada 17-22 April 2004, dengan pasukan sebanyak 16 orang.

Sore itu, 17 April 2004, semua pasukan sudah berkumpul rapi dengan segala perbekalan yang memang sudah dipersiapkan dari siang. Selesai do'a bersama, saya dkk pun berangkat menuju Jember dengan mengendarai mobil carteran yang nantinya oper bis di terminal bungurasih. Dari terminal Tawang Alun, Jember, perjalanan kami berlanjut ke kampus Unej. Disana sudah menanti seorang teman yang sengaja datang duluan sebagai pioneer untuk mengurusi segala administrasi dan mencari kendaraan untuk ke Bande Alit.

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) sendiri memiliki luas lahan 58,000 Ha yang membentang dari Jember hingga Banyuwangi. TNMB sebenernya mempunyai dua pintu, Bande Alit (Jember) dan Sukamade (Banyuwangi). Untuk mencapai kedua tempat ini agak susah, karena kendaraan umum yang ada hanya sampai Batas desa terakhir sebelum masuk perkebunan. Tapi jangan khawatir, karena kita masih bisa menumpang mobil perkebunan pada pagi2 sekali setiap harinya. Tapi khusus hari itu kami menyewa truk, karena jumlah kami yang lumayan banyak agar perjalanan lebih efektif.

Wow...jalanan dari desa Ambulu hingga Bande Alit (pos perijinan terakhir) hanya berupa batu yang menonjol tajam dan tanah berdebu, lebih tepatnya sangat cocok bwt offroad. Meski jalanan penuh dengan batu, di kanan kiri jalan mata kami disuguhi dengan pemandangan yang keren banget. Jajaran pohon2 rindang dan kadang berganti menjadi hamparan ladang yang luas penuh dengan tanaman produksi, seperti kopi, cengkeh, dan tak jarang anak2 kecil berlarian di tengah ladang. Goncangan dalam truk yang membuat kami harus berpegangan erat pada badan truk justru membuat kami semakin menggila kesenangan. Wajah-wajah yang tadinya teramat sangat lelah karena belum tidur 2hari, kini terlihat sangat riang dan itu cukup membuat saya bangun dari rasa capek yang mendera.

Akhirnya...setelah 3jam terombang-ambing di dalam truk, kami tiba juga di pos perijinan terakhir di Bande Alit. Suasananya sepi, hanya terdapat beberapa bangunan yang difungsikan untuk pos dan pastinya ada beberapa petugas Taman Nasional yang sedang berjaga. Karena ini adalah perjalanan pertama kami disini, maka petugas menyarankan kepada kami untuk mengambil guide selama perjalanan ini. Hal ini dimaksudkan agar rombongan kami tidak tersesat di dalam taman nasional karena banyaknya jalan yang putus atau bercabang. Dan juga untuk menghindarkan kami dari bahaya lain seperti serangan hewan liar. Sekaligus petugas hutan biasa mengawasi gerak-gerik para pendatang yang seringkali merusak hutan.

Jam 1 siang, kami memulai perjalanan panjang itu. Lokasi start point tak jauh dari pos perijinan. Berada di sebuah desa kecil dengan rumah-rumah sederhana yang asri. Selesai cek ulang dan do'a bersama, kami mulai perjalanan itu dengan trek yang tidak terlalu menanjak.. tapi cukup membuat kami ngos2an. Tap..tap.. perlahan tapi pasti, rombongan memasuki kawasan hutan lindung Bande Alit. Di Bande Alit kami menemukan berbagai jenis tanaman dan beberapa kera ekor panjang. Jalanan setapak cukup licin saat dilewati, harus berhati2, dan pandai2 mencari strategi agar tidak terperosok ke jurang. Tepat jam 5 sore perjalanan kami terhenti di sebuah mata air, lebih tepatnya sungai kecil yg airnya jernih banget. Tak banyak waktu untuk bermain air disni, karena perjalanan masih cukup panjang dan hari sudah mulai petang. Takutnya pas di meru barat, air sungai naik dan kami tidak bisa menyebrang. Setelah berjalan 1jam, hujan mulai mengguyur. Dengan sigap saya dkk mengeluarkan ponco dan senter. Jalan setapak yang tadinya licin, kini makin licin dan tak jarang kami harus jatuh bangun melewatinya. Jam 8 malam akhirnya kami sampai di Meru Barat. Dan benar saja, air sungai sudah naik sampai sebatas kepala orang dewasa. Mau tak mau kami harus nge-camp di hutan bambu yang berdekatan dengan sungai.

Keesokan paginya, ketika matahari masih malu-malu untuk berpijar, kami menemukan pemandangan yang menakjubkan. Blue sky, air yang jernih, hijaunya hutan, dan tak kalah serunya.. ada rusa yang sedang minum. Suara burung sahut menyahut menyambut datangnya pagi. Pemandangan yang jarang sekali kita temukan di alam bebas, kini akhirnya saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Sarapan udah, packing udah, saatnya melanjutkan perjalanan. Air sungai yang semalem sempat naik, kini sudah normal lagi sehingga kami bisa menyebrang dan menyusuri pantai Meru Barat hingga Meru Timur. Pasir putih yang menghambur luas, laut biru, langit cerah, dipadu hijaunya hutan dan sekumpulan hewan-hewan liar sungguh baru kali itu saya alami. Wow..

Dari Meru Timur perjalanan berlanjut ke Permisan Barat. Untuk mencapai Permisan Barat, rombongan kami harus masuk ke dalam hutan lagi. Relatif datar, dan banyak ditemukan mata air. Eits,, sepertinya gak sesimpel itu... Hmm.. di awal perjalanan memang trek relatif datar, tapi setengah jalan sisanya hingga pantai permisan Barat jalur relatif nanjak bahkan kami harus berjalan merangkat karena sa
king curamnya jalur yg kami lewati. Disepanjang jalan kami disapa oleh suara rangkok yang khas itu, jejak-jejak hewan liar seperti celeng, menjangan, banteng, dll yang kadang kami temukan di sepanjang jalan itu. Sekitar jam 2 siang kami sampai di Pantai Permisan barat. Pantainya relatif lebih tenang jika di banding Pantai Meru, karena letaknya yang membentuk teluk. Di sini saya menemukan keong aduan yang biasa dijual ke anak2 kecil. Banyak euy, seru ajah menangkap mereka satu persatu. Bukan untuk aduan, tapi kali ini untuk umpan pancing. Yeah,, lumayan lah klo dapet ikan gede, bisa bwt makan malam.

Cukup sejam beristirahat di Permisan Barat, perjalanan berlanjut ke Permisan Timur. Wah...harus melintasi gunung Meru (halah..dobel2 katanya, Meru=gunung). Hmm.. mayan berat, apalagi si mas guide sudah membuat saya harus naik turun punggungan karena salah milih jalan. beuh.. Tapi untungnya rute ini cukup pendek, 1jam berjalanan rombongan sudah memasuki kawasan Permisan Timur. Hwa.. hwa... cakep boow.. Pantai yang tenang, lengkungan garis pantai yang indah, sepi, hijau, dan pastinya bisa berenang. wah...menyenangkan, seperti pantai pribadi, karena gak ada orang lain lagi selain kami. Tanpa pikir panjang lagi, tas saya taruh di rerumputan.. dan... byur... berenang dengan senang di pantai. Begitu juga anak2 yang lain, smuanya masuk ke dalam air. Bermain gulung ombak, mencari kerang, mengubur salah seorang teman yang kebetulan sedang berulang tahun ke dalam pasir, kejar2an.. dan hal2 lain yang membuat kami larut dalam suka cita dan melupakan segala kepenatan di kampus.

Puas bermain ombak, kini saatnya mandi dengan air tawar biar badan gak gatel2. Hmm.. Tapi dmn..?? seorang guide kami menunjukkan sebuah sungai dengan air terjun datar dan kolam dibawahnya yang terhubung ke muara. Wah.. keseruan apalagi ini, pikir saya senang. hehe.. Tidak sejernih mata air sebelumnya, tapi ini cukup membuat kami senang karena bisa berenang2 dalam kolam itu. Hwaa...lapeerrr... Kerang yang tadi kami kumpulkan di didihkan dulu, dikupas kulitnya, kemudian ditumis dengan bumbu kecap.. hmmm... harum. Makan malam yang menyenangkan.

Seperti yg sudah2, jam 8 smua sdh siap jalan menuju Sukamade. Habis pantai, masuk hutan lagi. Cukup panjang perjalanan pada hari ketiga ini. Jalan setapak yg kadang putus entah kmn arahnya, tanjakan yg lumayan curam, dan percabangan yg menyesatkan. Dan yg lebih mengerikan, macan masih suka berkeliaran di jalur ini. Disini kami juga menemukan kayu bekas illegal loging, dan beberapa jalan setapak sudah ditata sedemikian rupa oleh para penebang liar itu agar mudah mengangkut kayu ke perahu.

Lanjut.... Kini rombongan memasuki hutan bambu, masih dengan mata air yang berlimpah. Keluar dari hutan bambu, kami bertemu dengan perkebunan penduduk yang artinya perjalanan panjang kami akan segera berakhir. Horay... Di perkebunan ini, kami mendapati pohon kelapa yang berjajar rapi dengan buahnya yang melimpah ruah. Haus dan ngiler pastinya liat buah yang seger, salah seorang diantara kami memberanikan diri meminta ke pemilik perkebunan. Tidak disangka, sang pemilik sangat berbaik hati. Gak pake mikir lagi, langsung saja dia menyuruh anak buahnya (berperawakan kecil nan sangar dengan kepala botak tapi menyisahkan rambut sedikit di belakang dan berebntuk pohon beringin) memanjat pohon dan mengambilkan untuk kami. tap..tap..tap.. bruk.. setangkai (berisi kira2 6-8buah) terjatuh dari pohonnya. Spontan kami pun memungutinya dengan berebutan...tapi...eits... awas..jangan diambil dulu, kata suara dari atas. dan tak lama setelah itu setangkai buah kelapa mendarat di tanah. dan..dan..wew..dia tidak berhenti menebang tangkai buah kelapa, hingga 3 tangkai yg dia tebang hingga akhirnya dia menyudahi acara panjat memanjat. Sekarang giliran kami yang kebingungan gimana caranya menghabiskan smuanya. Yasudah gak pke acara mikir lama, langsung saja kami bergantian membela buah2 itu. Meminumnya satu dan memakan buahnya, dan selanjutnya dan selanjutnya hingga akhirnya mabok degan.. hwalah lebay.. hahah..

Puas minum degan tanpa es, perjalanan tetep berlanjut menyusuri kampung penduduk yang asri dengan tata desa yang rapi dan bersih, perkebunan kopi, coklat, karet, dll yang cukup luas. Sekitar satu jam berjalan, akhirnya kami sampai di Sukamade, tempat penyu bertelur. Disini jauh lebih ramai dari Bande Alit, sudah tersedia penginapan dan restauran bagi para turis yang datang dan beberapa bangunan pos dan sebuah bangunan untuk penangkaran penyu. Tak hanya turis lokal yang datang ke sini, turis asing pun sering datang mengunjungi sukamade.

Istirahat sebentar, lalu kami melanjutkan acara selanjutnya.. menunggu penyu bertelur. Lokasi melihat penyu tak jauh dari pos penjagaan, hanya sekitar 15menit jalan kaki. Pas banget waktunya, malam itu adalah malam bulan mati dmn penyu suka mendarat untuk bertelur. Penyu sangat sensitif terhadap bau, cahaya, dan suaranya. Hati2 jika ingin menonton penyu bertelur, lampu senter harus mati dan kita tidak boleh bercakap2 karena itu akan membuat penyu batal bertelur dan kembali ke air. Tidak butuh waktu yang lama, seekor penyu naik ke darat dan mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Petugas dengan sigap memberitahu kami jika penyunya datang, dan menyuruh kami menunggu beberapa saat agar penyu tidak panik. Setelah dirasa cukup nyaman, barulah kami boleh menonton penyu itu bertelur. Hmm.. Penyu yang sedang bertelur namanya penyu hijau, dan sebenernya ada beberapa jenis lagi yang pernah bertelur di sukamade, tapi penyu hijau lah yang paling sering mendarat. Sekali bertelur, penyu bisa menghasilkan 60-120butir telur. Tapi sayang, kurangnya kesadaran membuat telur2 itu sering dicuri oleh orang2 yg tidak bertanggung jawab. Selesai bertelur, penyu membuat lubang jebakan yang bertujuan untuk mengelabui musuh agar telur2 mereka tidak dicuri. Penyu hijau, belimbing, sisik, dll merupakan jenis yang langkah. Bayangkan saja, penyu hijau baru akan kawin dan bertelur pada usia 25 th ke atas. Blom lagi, tukik(anak penyu) yang baru menetas punya banyak kendala yang mengancam hidupnya. Elang, hiu, kadal, manusia adalah musuh besar bagi penyu.

Liat telur bertelur sudah, saatnya melepas tukik ke laut. Jam 7 pagi kami sudah siap di pantai Sukamade, dan kebetulan pagi itu ada tukik yang siap dilepas, jadi kami bisa ikutan. Lucu banget..kaki2nya yg imut dan langkahnya yang masih sretengan, membuat saya makin gemes.

Selesai acara melepas tukik, rombongan kembali ke pos, dan bersiap untuk pulang. Dengan menyewa sebuah truk milik penduduk, kami berlalu meninggalkan sukamade menuju pesanggaran, genteng, dan terakhir ke glenmore. Dari Sukamade ke Pesanggaran, jalurnya tak kalah heboh dengan Ambulu - Bande Alit. Jalanan yang naik turun, dengan bebatuan yang terjal, dan sungai yang mengalir deras diterjang begitu saja oleh truk yang kami tumpangi. Disepanjang jalan ini kami juga menemui pantai lain yang tak kalah bagusnya, ada pantai teluk ijo dan pantai rajegwesi. Sekitar 1,5jam menempuh perjalanan berat, sampailah kami di pesanggaran. Dari sini, ganti bis ke genteng dan diteruskan ke surabaya.

Hmm.... benar2 sbuah perjalanan yang menyenangkan,,yang pastinya akan selalu membekas dalam hati saya,, dan entah kapan kami bisa melakukannya lagi bareng2.. thx alot my brothers and sisters..