Entri Populer

Selasa, 05 Mei 2009

Meru Betiri,, Pengalaman seru yang tak terlupakan

Bertemu orang-orang baru dalam sebuah perkumpulan adalah satu hal baru yang menantang sekaligus menyenangkan. Senang karena seperti menemukan keluarga baru, yang artinya akan membuat wacana baru dalam hidup kita. Menantang, dengan berbagai macam karakter yang ada kita berupaya menyeimbangkan semuanya dalam satu tujuan bersama. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali bergabung dalam sebuah perkumpulan anak-anak penggila jalan-jalan dan olahraga outdoor yang selalu berupaya menjaga keseimbangan lingkungannya ini. Sikluser, itulah panggilannya.

Di suatu April, muncullah ide untuk jalan bareng. Dari koordinasi yang cukup rumit, akhirnya diputuskan untuk jalan ke Taman Nasional Meru Betiri. Trans Meru Betiri, judul acaranya. Yep.. dari namanya sudah pasti kami akan melakukan perjalanan menyusuri hutan dan pantai dari meru barat sampai meru timur. Dilaksanakan pada 17-22 April 2004, dengan pasukan sebanyak 16 orang.

Sore itu, 17 April 2004, semua pasukan sudah berkumpul rapi dengan segala perbekalan yang memang sudah dipersiapkan dari siang. Selesai do'a bersama, saya dkk pun berangkat menuju Jember dengan mengendarai mobil carteran yang nantinya oper bis di terminal bungurasih. Dari terminal Tawang Alun, Jember, perjalanan kami berlanjut ke kampus Unej. Disana sudah menanti seorang teman yang sengaja datang duluan sebagai pioneer untuk mengurusi segala administrasi dan mencari kendaraan untuk ke Bande Alit.

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) sendiri memiliki luas lahan 58,000 Ha yang membentang dari Jember hingga Banyuwangi. TNMB sebenernya mempunyai dua pintu, Bande Alit (Jember) dan Sukamade (Banyuwangi). Untuk mencapai kedua tempat ini agak susah, karena kendaraan umum yang ada hanya sampai Batas desa terakhir sebelum masuk perkebunan. Tapi jangan khawatir, karena kita masih bisa menumpang mobil perkebunan pada pagi2 sekali setiap harinya. Tapi khusus hari itu kami menyewa truk, karena jumlah kami yang lumayan banyak agar perjalanan lebih efektif.

Wow...jalanan dari desa Ambulu hingga Bande Alit (pos perijinan terakhir) hanya berupa batu yang menonjol tajam dan tanah berdebu, lebih tepatnya sangat cocok bwt offroad. Meski jalanan penuh dengan batu, di kanan kiri jalan mata kami disuguhi dengan pemandangan yang keren banget. Jajaran pohon2 rindang dan kadang berganti menjadi hamparan ladang yang luas penuh dengan tanaman produksi, seperti kopi, cengkeh, dan tak jarang anak2 kecil berlarian di tengah ladang. Goncangan dalam truk yang membuat kami harus berpegangan erat pada badan truk justru membuat kami semakin menggila kesenangan. Wajah-wajah yang tadinya teramat sangat lelah karena belum tidur 2hari, kini terlihat sangat riang dan itu cukup membuat saya bangun dari rasa capek yang mendera.

Akhirnya...setelah 3jam terombang-ambing di dalam truk, kami tiba juga di pos perijinan terakhir di Bande Alit. Suasananya sepi, hanya terdapat beberapa bangunan yang difungsikan untuk pos dan pastinya ada beberapa petugas Taman Nasional yang sedang berjaga. Karena ini adalah perjalanan pertama kami disini, maka petugas menyarankan kepada kami untuk mengambil guide selama perjalanan ini. Hal ini dimaksudkan agar rombongan kami tidak tersesat di dalam taman nasional karena banyaknya jalan yang putus atau bercabang. Dan juga untuk menghindarkan kami dari bahaya lain seperti serangan hewan liar. Sekaligus petugas hutan biasa mengawasi gerak-gerik para pendatang yang seringkali merusak hutan.

Jam 1 siang, kami memulai perjalanan panjang itu. Lokasi start point tak jauh dari pos perijinan. Berada di sebuah desa kecil dengan rumah-rumah sederhana yang asri. Selesai cek ulang dan do'a bersama, kami mulai perjalanan itu dengan trek yang tidak terlalu menanjak.. tapi cukup membuat kami ngos2an. Tap..tap.. perlahan tapi pasti, rombongan memasuki kawasan hutan lindung Bande Alit. Di Bande Alit kami menemukan berbagai jenis tanaman dan beberapa kera ekor panjang. Jalanan setapak cukup licin saat dilewati, harus berhati2, dan pandai2 mencari strategi agar tidak terperosok ke jurang. Tepat jam 5 sore perjalanan kami terhenti di sebuah mata air, lebih tepatnya sungai kecil yg airnya jernih banget. Tak banyak waktu untuk bermain air disni, karena perjalanan masih cukup panjang dan hari sudah mulai petang. Takutnya pas di meru barat, air sungai naik dan kami tidak bisa menyebrang. Setelah berjalan 1jam, hujan mulai mengguyur. Dengan sigap saya dkk mengeluarkan ponco dan senter. Jalan setapak yang tadinya licin, kini makin licin dan tak jarang kami harus jatuh bangun melewatinya. Jam 8 malam akhirnya kami sampai di Meru Barat. Dan benar saja, air sungai sudah naik sampai sebatas kepala orang dewasa. Mau tak mau kami harus nge-camp di hutan bambu yang berdekatan dengan sungai.

Keesokan paginya, ketika matahari masih malu-malu untuk berpijar, kami menemukan pemandangan yang menakjubkan. Blue sky, air yang jernih, hijaunya hutan, dan tak kalah serunya.. ada rusa yang sedang minum. Suara burung sahut menyahut menyambut datangnya pagi. Pemandangan yang jarang sekali kita temukan di alam bebas, kini akhirnya saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Sarapan udah, packing udah, saatnya melanjutkan perjalanan. Air sungai yang semalem sempat naik, kini sudah normal lagi sehingga kami bisa menyebrang dan menyusuri pantai Meru Barat hingga Meru Timur. Pasir putih yang menghambur luas, laut biru, langit cerah, dipadu hijaunya hutan dan sekumpulan hewan-hewan liar sungguh baru kali itu saya alami. Wow..

Dari Meru Timur perjalanan berlanjut ke Permisan Barat. Untuk mencapai Permisan Barat, rombongan kami harus masuk ke dalam hutan lagi. Relatif datar, dan banyak ditemukan mata air. Eits,, sepertinya gak sesimpel itu... Hmm.. di awal perjalanan memang trek relatif datar, tapi setengah jalan sisanya hingga pantai permisan Barat jalur relatif nanjak bahkan kami harus berjalan merangkat karena sa
king curamnya jalur yg kami lewati. Disepanjang jalan kami disapa oleh suara rangkok yang khas itu, jejak-jejak hewan liar seperti celeng, menjangan, banteng, dll yang kadang kami temukan di sepanjang jalan itu. Sekitar jam 2 siang kami sampai di Pantai Permisan barat. Pantainya relatif lebih tenang jika di banding Pantai Meru, karena letaknya yang membentuk teluk. Di sini saya menemukan keong aduan yang biasa dijual ke anak2 kecil. Banyak euy, seru ajah menangkap mereka satu persatu. Bukan untuk aduan, tapi kali ini untuk umpan pancing. Yeah,, lumayan lah klo dapet ikan gede, bisa bwt makan malam.

Cukup sejam beristirahat di Permisan Barat, perjalanan berlanjut ke Permisan Timur. Wah...harus melintasi gunung Meru (halah..dobel2 katanya, Meru=gunung). Hmm.. mayan berat, apalagi si mas guide sudah membuat saya harus naik turun punggungan karena salah milih jalan. beuh.. Tapi untungnya rute ini cukup pendek, 1jam berjalanan rombongan sudah memasuki kawasan Permisan Timur. Hwa.. hwa... cakep boow.. Pantai yang tenang, lengkungan garis pantai yang indah, sepi, hijau, dan pastinya bisa berenang. wah...menyenangkan, seperti pantai pribadi, karena gak ada orang lain lagi selain kami. Tanpa pikir panjang lagi, tas saya taruh di rerumputan.. dan... byur... berenang dengan senang di pantai. Begitu juga anak2 yang lain, smuanya masuk ke dalam air. Bermain gulung ombak, mencari kerang, mengubur salah seorang teman yang kebetulan sedang berulang tahun ke dalam pasir, kejar2an.. dan hal2 lain yang membuat kami larut dalam suka cita dan melupakan segala kepenatan di kampus.

Puas bermain ombak, kini saatnya mandi dengan air tawar biar badan gak gatel2. Hmm.. Tapi dmn..?? seorang guide kami menunjukkan sebuah sungai dengan air terjun datar dan kolam dibawahnya yang terhubung ke muara. Wah.. keseruan apalagi ini, pikir saya senang. hehe.. Tidak sejernih mata air sebelumnya, tapi ini cukup membuat kami senang karena bisa berenang2 dalam kolam itu. Hwaa...lapeerrr... Kerang yang tadi kami kumpulkan di didihkan dulu, dikupas kulitnya, kemudian ditumis dengan bumbu kecap.. hmmm... harum. Makan malam yang menyenangkan.

Seperti yg sudah2, jam 8 smua sdh siap jalan menuju Sukamade. Habis pantai, masuk hutan lagi. Cukup panjang perjalanan pada hari ketiga ini. Jalan setapak yg kadang putus entah kmn arahnya, tanjakan yg lumayan curam, dan percabangan yg menyesatkan. Dan yg lebih mengerikan, macan masih suka berkeliaran di jalur ini. Disini kami juga menemukan kayu bekas illegal loging, dan beberapa jalan setapak sudah ditata sedemikian rupa oleh para penebang liar itu agar mudah mengangkut kayu ke perahu.

Lanjut.... Kini rombongan memasuki hutan bambu, masih dengan mata air yang berlimpah. Keluar dari hutan bambu, kami bertemu dengan perkebunan penduduk yang artinya perjalanan panjang kami akan segera berakhir. Horay... Di perkebunan ini, kami mendapati pohon kelapa yang berjajar rapi dengan buahnya yang melimpah ruah. Haus dan ngiler pastinya liat buah yang seger, salah seorang diantara kami memberanikan diri meminta ke pemilik perkebunan. Tidak disangka, sang pemilik sangat berbaik hati. Gak pake mikir lagi, langsung saja dia menyuruh anak buahnya (berperawakan kecil nan sangar dengan kepala botak tapi menyisahkan rambut sedikit di belakang dan berebntuk pohon beringin) memanjat pohon dan mengambilkan untuk kami. tap..tap..tap.. bruk.. setangkai (berisi kira2 6-8buah) terjatuh dari pohonnya. Spontan kami pun memungutinya dengan berebutan...tapi...eits... awas..jangan diambil dulu, kata suara dari atas. dan tak lama setelah itu setangkai buah kelapa mendarat di tanah. dan..dan..wew..dia tidak berhenti menebang tangkai buah kelapa, hingga 3 tangkai yg dia tebang hingga akhirnya dia menyudahi acara panjat memanjat. Sekarang giliran kami yang kebingungan gimana caranya menghabiskan smuanya. Yasudah gak pke acara mikir lama, langsung saja kami bergantian membela buah2 itu. Meminumnya satu dan memakan buahnya, dan selanjutnya dan selanjutnya hingga akhirnya mabok degan.. hwalah lebay.. hahah..

Puas minum degan tanpa es, perjalanan tetep berlanjut menyusuri kampung penduduk yang asri dengan tata desa yang rapi dan bersih, perkebunan kopi, coklat, karet, dll yang cukup luas. Sekitar satu jam berjalan, akhirnya kami sampai di Sukamade, tempat penyu bertelur. Disini jauh lebih ramai dari Bande Alit, sudah tersedia penginapan dan restauran bagi para turis yang datang dan beberapa bangunan pos dan sebuah bangunan untuk penangkaran penyu. Tak hanya turis lokal yang datang ke sini, turis asing pun sering datang mengunjungi sukamade.

Istirahat sebentar, lalu kami melanjutkan acara selanjutnya.. menunggu penyu bertelur. Lokasi melihat penyu tak jauh dari pos penjagaan, hanya sekitar 15menit jalan kaki. Pas banget waktunya, malam itu adalah malam bulan mati dmn penyu suka mendarat untuk bertelur. Penyu sangat sensitif terhadap bau, cahaya, dan suaranya. Hati2 jika ingin menonton penyu bertelur, lampu senter harus mati dan kita tidak boleh bercakap2 karena itu akan membuat penyu batal bertelur dan kembali ke air. Tidak butuh waktu yang lama, seekor penyu naik ke darat dan mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Petugas dengan sigap memberitahu kami jika penyunya datang, dan menyuruh kami menunggu beberapa saat agar penyu tidak panik. Setelah dirasa cukup nyaman, barulah kami boleh menonton penyu itu bertelur. Hmm.. Penyu yang sedang bertelur namanya penyu hijau, dan sebenernya ada beberapa jenis lagi yang pernah bertelur di sukamade, tapi penyu hijau lah yang paling sering mendarat. Sekali bertelur, penyu bisa menghasilkan 60-120butir telur. Tapi sayang, kurangnya kesadaran membuat telur2 itu sering dicuri oleh orang2 yg tidak bertanggung jawab. Selesai bertelur, penyu membuat lubang jebakan yang bertujuan untuk mengelabui musuh agar telur2 mereka tidak dicuri. Penyu hijau, belimbing, sisik, dll merupakan jenis yang langkah. Bayangkan saja, penyu hijau baru akan kawin dan bertelur pada usia 25 th ke atas. Blom lagi, tukik(anak penyu) yang baru menetas punya banyak kendala yang mengancam hidupnya. Elang, hiu, kadal, manusia adalah musuh besar bagi penyu.

Liat telur bertelur sudah, saatnya melepas tukik ke laut. Jam 7 pagi kami sudah siap di pantai Sukamade, dan kebetulan pagi itu ada tukik yang siap dilepas, jadi kami bisa ikutan. Lucu banget..kaki2nya yg imut dan langkahnya yang masih sretengan, membuat saya makin gemes.

Selesai acara melepas tukik, rombongan kembali ke pos, dan bersiap untuk pulang. Dengan menyewa sebuah truk milik penduduk, kami berlalu meninggalkan sukamade menuju pesanggaran, genteng, dan terakhir ke glenmore. Dari Sukamade ke Pesanggaran, jalurnya tak kalah heboh dengan Ambulu - Bande Alit. Jalanan yang naik turun, dengan bebatuan yang terjal, dan sungai yang mengalir deras diterjang begitu saja oleh truk yang kami tumpangi. Disepanjang jalan ini kami juga menemui pantai lain yang tak kalah bagusnya, ada pantai teluk ijo dan pantai rajegwesi. Sekitar 1,5jam menempuh perjalanan berat, sampailah kami di pesanggaran. Dari sini, ganti bis ke genteng dan diteruskan ke surabaya.

Hmm.... benar2 sbuah perjalanan yang menyenangkan,,yang pastinya akan selalu membekas dalam hati saya,, dan entah kapan kami bisa melakukannya lagi bareng2.. thx alot my brothers and sisters..

Tidak ada komentar: